Rabu, 02 April 2008

memotivasi umat dengan berbasis pada fitrah

majalah hidayah edisi 80, april 08

Pagi itu, cuaca cerah. Langit tidak digelayuti mendung. Matahari bersinar dari ufuk timur memberikan harapan baru bagi kehidupan.

Hidayah yang sudah membuat janji wawancara dengan ustadz Muhammad Rusdi Malik di sela-sela kesibukannya yang padat untuk mengisi tausiyah di sejumlah tempat, akhirnya berkunjung ke rumahnya yang asri di komplek Limus Pratama, daerah Cileungsi, Bogor.

Kebetulan pagi itu Hidayah datang lebih awal dari jadwal yang dijanjikan sehingga sempat menunggu untuk beberapa saat. Tetapi tidak lama berselang, ustadz yang dikenal kalem dan lembut ini kemudian menyambut Hidayah. Lalu perbincangan mengalir dalam suasana santai. Lelaki ramah yang dulu belajar ilmu arsitektur di Fakultas Teknik, Jurusan Arsitektur, Universitas Hasanudin ini pun bercerita panjang lebar tentang perjalanan hidupnya setelah ia meninggalkan kampung halaman, hingga kemudian menjadi seorang penceramah.

“Rumah ini merupakan hasil kerja saya di bidang arsitek,” ujarnya kalem, seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. “Tapi, karena sekarang sibuk mengisi taisiyah, terpaksa saya meninggalkan bakat saya tersebut setelah saya menunaikan shalat istikharah. Maklum, karena panggilan mengisi ceramah kini padat, akhirnya saya memutuskan untuk total dalam berdakwah. Apalagi, saya sudah berumur di atas empat puluh tahun, sehingga saya memandang perlu untuk memikirkan bekal bagi kehidupan nanti.”

Dari Arsitek Sampai Da`i
Memang, jalan hidup seseorang kadang susah ditebak. Demikian juga yang dialami ustadz Muhammad Rusdi Malik. Awal mulanya ustadz Muhammad Rusdi Malik merantau ke Jakarta tak lain ingin mengembangkan ilmu di bidang arsitektur. Tetapi, siapa yang menyangka kalau kemudian dia harus menjadi seorang da`i?

Maklum, laki-laki satu ini dahulu kuliah di Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Hasanudin. Maka, setelah lulus kuliah dan membina keluarga bahkan sudah memiliki anak empat yang masih kecil-kecil dan dituntut bisa memberikan nafkah yang layak, ia lalu memutuskan merantau ke Jakarta. Dengan berbekal ijazah dan ilmu arsitektur yang diperolehnya di kampus disertai kepercayaan diri akan rahmat Allah, maka lelaki satu ini pun tak ragu mengajak istri dan keempat anaknya yang masih kecil-kecil. “Dalam posisi seperti itu, tak jarang seseorang akan dituntut untuk kreatif,’ ujarnya menceritakan tentang keberaniannya pergi ke Jakarta.

Padahal, waktu ustadz Muhammad Rusli Malik bersama istri dan keempat anaknya meninggalkan kampung halaman untuk merantau ke ibu kota tak ada jaminan yang pasti. Tak ada lowongan kerjaan yang memanggil untuk datang ke Jakarta. Bahkan, di Jakarta juga tidak memiliki sanak saudara untuk dijadikan tumpangan. Akhirnya, ustadz Rusli bersama keluarga mengontrak sebuah kamar yang sempit di pinggir kali Ciliwung yang kumuh, di daerah Matraman Salemba. Lebih sedih lagi, daerah itu setiap malam seringkali dilanda perang batu dan api dengan Matraman Dalam.

Tetapi, hal itu ternyata tidak menghalangi ustadz Rusli untuk mundur dan takut. Justru tantangan serta halangan itu, bahkan dilihatnya sebagai driving force (tenaga pendorong) untuk maju dan terus berjuang. Tidak salah, meskipun dilanda kondisi yang “kurang menguntungkan”, ustadz Rusdi justru terpicu. Di sisi lain, dengan keadaan seperti itu kreativitas pun kemudian muncul. Maka, untuk mencukupi kebutuhan hidup, karena ia belum bisa mengembangkan bakatnya di bidang arsitektur lantaran belum ada prasarana dan sarana yang memandai akhirnya ia memutuskan untuk menjadi penulis lepas di sejumlah media massa.

“Karena untuk mengembangkan arsitek itu saya harus memiliki meja dan beberapa peralatan, sementara saya tak punya, akhirnya saya memilih menulis, yang tidak memerlukan modal. Dengan menulis, selain mendapat honor juga akan menambah volume intelektual kita,” dalihnya.

Seiring dengan perjalanan waktu, akhirnya ustadz Rusdi dapat memenuhi tuntutan yang sesuai dengan ijazahnya dan mulai bisa mengembangkan ilmu arsitektur yang telah diperoleh. Bersaman itu pula, ustadz Rusli yang sudah mulai berdakwah sewaktu masih mahasiswa dulu kemudian diminta untuk menjadi penceramah pengganti kala ada ustadz yang kebetulan berhalangan hadir. Tak jarang, juga mengisi kultum dan bahkan menggantikan seorang khatib yang kebetulan tidak bisa hadir.

Awalnya memang sebagai pengganti tetapi lambat laun ternyata model cemarah ustadz Rusli memikat jamaah sehingga tak salah jika secara berangsur-angsur didaulat untuk menjadi penceramah. Akhirnya, kini jadwal tausiah yang harus diisi ustadz satu ini berdatangan, nyaris penuh dalam seminggu. Jadinya, selain sebagai penulis dan arsitek, kini ustadz ini dikenal sebagai penceramah atau da`i yang sudah kerap memberikan cahaya pengetahuan di sejumlah majlis taklim, radio FM, perumahan dan perusahaan-perusahaan.

Dari Basic di Kampus
Meski ustadz Rusli menimba ilmu di Fakultas teknik, jurusan arsitektur, tetapi saja hal itu tak menutup pintu ketertarikannya untuk belajar agama. “Meski sejak SD sampai kuliah dulu saya di sekolah umum, tetapi saya terus belajar bahasa Arab dan ilmu agama. Bahkan sejak belajar di kampus dulu, saya sudah konsens mendalami tafsir al-Qur`an,” ujarnya kalem.

Maka, tidak mustahil jika dia bisa menjadi penceramah di kemudian hari, karena basic itu sudah tertanam sejak masih menjadi mahasiswa. “Sejak masih mahasiswa dulu saya sudah sering berdakwah. Ada kelompok jamaah di masjid yang seringkali diisi dengan kultum, dan saya sering mendapat giliran. Anehnya, orang senang dengan cara ceramah saya, sehinga akhirnya saya pun menjadi pengganti kutbah jika ada khatib berhalangan hadir”.

Basic atau modal ceramah itu, memang tidak datang tiba-tiba. Dahulu pernah suatu hari, sewaktu ustadz Rusdi masih jadi mahasiswa menghadiri acara peringatan maulid nabi. Kebetulan yang jadi penceramah adalah seorang ahli ekonomi yang memberikan tausiyah cukup memikat pada jamaah, khususnya ustadz Rusli. Tak salah, jika ustadz Rusli merasa terpukau. Apalagi, sang da`i itu tampil mengesankan. Akhirnya, dari pengalaman itulah ia kemudian ikut aktif di HMI dan lebih giat belajar agama. Pengaruh itulah yang kemudian menjadi satu pengalaman mengesankan sehingga ustadz Rusli kemudian menjadi da`i.

Berdakwah pula Lewat Buku
Dalam pandangan ustadz Rusli, Al-qur`an selain mengajarkan umat Islam untuk membaca, juga menuntut umat untuk menyampaikannya dan kemudian menulis dalam bentuk tulisan, entah itu lewat sebuah buku atau media massa. Maka, ustadz Rusli pun tidak sekadar membaca dan menyampaikan kebenaran dari ajaran Islami yang diwahyukan Allah itu, melainkan pada tahap berikutnya kemudian merilis buku yang tidak lain juga merupakan satu bentuk dakwah.

Setidaknya, sampai saat ini sudah dua buah buku yang ditulis ustadz Rusli, Dua buku itu antara lain, buku Puasa: Menyelami Arti Kecerdasan Intelektual, Kecerdasan Spiritual dan Kecerdasan Emosional di Bulan Ramadhan dan buku Maju Sambil Tersenyum: Sebuah Manejemen Diri Berbasis pada Fitrah untuk Menjadi Manusia Produktif dan Bahagia Secara Kuantum.

Dalam buku Maju Sambil Tersenyum (2006), ustadz Rusli mengajak umat Islam untuk jadi manusia yang produktif, maju dan bahagia tidak dengan jalan mengagungkan materi, melainkan kembali pada fitrah, yakni dengan berbasis pada jiwa manusia. Sebab, menurut ustadz Rusli, jiwa itu yang akan membawa umat Islam mencapai kesempurnaan.

“Kalau manusia ingin mencapai kesempurnaan, maka manusia itu harus mengolah dan memenejemen jiwanya. Karena tubuh manusia itu tidak pada taraf kesempurnaan, melainkan menuju kehancuran. Sebaliknya, jiwa-lah yang bergerak menuju kesempurnaan. Jadi jika orang ingin mencapai kesempurnaan tetapi mendasarkan pada tubuh, maka manusia itu akan menuju kehancuran. Karena inti manusia adalah jiwa.”

Kenapa? Karena bagi ustadz satu ini, Al-Qur`an atau agama itu datang sebenarnya ditujukan pada jiwa. Bahkan bisa disaksikan bahwa seluruh atau segala aktivitas manusia itu bertumpu pada jiwanya. Maka jika orang mengejar kesuksesan tapi bertumpu pada tubuh (materi), maka dia sebenarnya telah mengkhianati dirinya. “Jadi, jiwalah yang menentukan segala-galanya. Bahkan dalam al-Qur`an, Allah mensifatkan jiwa itu pada Tuhan dan juga ketika Tuhan menciptakan jiwa manusia itu menggunakan kata fitrah.”

Tak dapat disangkal, karena fitrah (jiwa) manusia itu mengajak ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tetapi sayangnya, di zaman sekarang ini orang justru menimbun potensi atau kekuatan dari fitrah manusia itu dalam keburukan-keburukan. Tak salah, jika kekuatan potensial dari fitrah itu kemudian tidak bisa membawa seseorang pada taraf kebahagiaan sejati karena ia mendasarkan kebahagiaan itu dan menukarnya dengan sebongkah materi, kekayaan, serta kekuasaan yang sebenarnya bersifat sementara.

Akibatnya, kejujuran, kelembutan dan nilai-nilai baik lain tenggelam dan yang timbul di permukaan adalah sifat-sifat seperti dengki, dendam, culas dan sebagainya. Tak ayal, jika kebahagian manusia itu pun bersifat semu dan jauh dari kenyataan. Karena memang tidak berfondasi pada “kekuatan jiwa” yang bermuara pada kesempurnaan. (n. mursidi)



Tidak ada komentar: