Sabtu, 02 Desember 2006

lumpur lapindo: bencana akibat ulah tangan manusia?

majalah hidayah edisi 65 desember 2006

Negeri ini seperti tiada henti dirundung duka. Bencana demi bencana datang silih berganti. Masih belum pupus dari ingatan kita mengenai bencana tsunami yang telah melibas Aceh, datang lagi tsunami yang disertai gempa di Yogya dan Jawa Tengah, ancaman letusan dari gunung merapi dan sederet bencana lain seperti serangan flu burung dan belakangan ini masih jadi pembicaraan sejumlah orang adalah semburan lumpur panas di Sidoarjo yang belum dapat dihentikan. Ada apa dengan semua bencana ini?

Memang tidak dapat dimungkiri, kalau keberadaan lumpur yang wajar dan lumrah akan bisa mendatangkan manfaat dan menjadi berkah. Sebab dengan kadar lumpur yang cukup, bisa digunakan bahan-bahan konstruksi materi bangunan seperi genting, batu-bata, gerabah dan lain sebagainya. Pendek kata, lumpur yang cukup jika berada di tangan seorang kreatif dapat diolah dan dimanfaatkan untuk menunjang keperluan dan kebutuhan hidup.

Akan tetapi, bagaimana jika lumpuh itu datang dan mengalir dalam jumlah yang tidak bisa dihentikan dan dikendalikan? Belum lagi, jika lumpur itu mengandung racun dan mengalir dengan suhu panas? Tentu bukan anugrah dan berkah yang akan diterima dengan keberadaan lumpur itu, melainkan sebuah bencana.

Bencana lumpur itulah yang menimpa warga Sidoarjo, Jawa Timur sejak 29 Mei 2006 lalu karena menggenangi perkampungan mereka akibat semburan lumpur panas yang susah untuk dikendalikan. Semburan lumpur itu mengalir dari perut bumi karena kesalahan eksplorasi yang dilakukan Lapindo Brantas Inc. Memang pada mulanya, lumpur panas itu menyembur begitu saja dari sepetak sawah yang terletak di desa Siring, kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo. Lalu, semburan kecil itu mengalir terus, menggenangi sawah dan tanah kosong di daerah sekitarnya.

Hari demi hari dan bulan demi bulan pun berlalu, semburan lumpur panas dengan suhu sekitar 70 derajat Celcius yang disertai gas dengan bau menyengat itu bukannya mampet justru kian membesar. Lumpur itu mengalir dan mengalir terus. Anehnya, lumpur itu menyembur terus dan tak bisa dihentikan. Bisa dibayangkan, di awal datang bencana volume lumpur berkisar 5.000 meter kubik, tetapi lambat laun karena tiap hari volume itu kian bertambah dan terus meningkat maka belakangan menjadi 126.000 meter kubik (Kompas, 2/10/06) sehingga bukan hanya sawah dan sungai yang kemudian digenangi Lumpur bahkan jalan tol dan rumah-rumah penduduk pun diterjang semburan lumpur panas itu.

Akibatnya, warga Sidoarjo terpaksa mengungsi karena rumah mereka kebanjiran lumpur. Tak sedikit bangunan dan gedung yang rusak parah. Belum lagi lumpuhnya jalan tol, rel kereta api dan fasilitas-fasi;itas lain. Dan akibat bencana itu, tak sedikit juga kerugian sosial yang harus ditanggung karena banyak warga yang kemudian menjadi penganggur, kehilangan rumah dan anak-anak pun tidak lagi bisa sekolah seperti dulu lagi.

Ada apa di balik kasus ini? Apakah warga Sidoarjo (terutama Porong) telah berbuat satu kesalahan besar sehingga Allah memberikan satu peringatan berupa datangnya bencana? Atau justru karena ada segelintir orang (baca: elite) yang berusaha mencari keuntungan tanpa pernah mempertimbangkan lingkungan sehingga berakibat fatal karena datang sebuah bencana dan anehnya yang menjadi korban justru rakyat kecil?

Dari Sudut Geologi
Sejak semburan lumpur panas menggenangi sebagian daerah Sidoarjo dan sampai kini semburan itu belum dapat dikendalikan, sejumlah ahli geologi seperti dihadapkan pada sebuah kasus dan persoalan pelik yang menguras energi cukup besar. Sejumlah skenario penghentian semburan itu pun dirancang dan anehnya belum juga menunjukkan hasil. Karena luapan lumpur panas itu seperti mengamuk, seakan-akan alam ini telah murka dan pada akhirnya memuntahkan kemarahan dengan menyemburkan lumpur panas yang melimpah ruah sehingga mengakibatkan banjir lumpur. Akibatnya, Porong pun seperti kawah lumpur.

Dr. Ir. Rudi Rubiandini RS, dosen Institut Teknologi Bandung dan Ketua Majlis Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (kompas, 19/08/2006), menulis ada dua kubu yang cukup representatif dalam melihat fenomena itu. Kelompok satu (ahli geologi) berpendapat dan percaya bahwa kejadian ini adalah sebuah fenomena mud volcano, yakni keluarnya lumpur dari bawah tanah, seperti halnya kasus Bledug Kuwu yang keluar secara alamiah. Karena itulah, menurut anggapan mereka, apabila hipotesa ini benar adanya, maka lubang di bawah tanah itu tidak akan menimbulkan gerowongan dan tanah akan tetap stabil.

Sementara kelompok kedua (termasuk ahli pengeboran minyak) berpendapat dan juga percaya kalau kejadian ini adalah sebagai fenomena dari underground blowout (UGBO) yakni keluarnya fluida bawah tanah (air, minyak atau gas) yang terjadi tidak dari lubang pengeboran. Jika hipotesis dari kelompok ini benar, maka akan berakibat terbentuknya sebuah gerowongan yang sangat besar di bawah tanah dan bisa jadi mengalami subsidance (penurunan tanah secara vertikal). Fenomena ini pernah terjadi di sumur pengeboran migas di daerah Sumatra Utara.

Lantas bagaimana cara menangani kasus semburan lumpur ini dari aspeks geologi? Jika fenomena UGBO yang terjadi, seperti telah dikatakan oleh Dr. Ir Rudi Rubiandini RS, berdasarkan pengalaman setiap blowout, akhirnya dapat dimatikan. Cara yang paling banyak berhasil adalah menggunakan relief well atau membuat sumur baru yang agak jauh (Penangangan model ini sudah direncakanan sebagai skenario 3 untuk menghentikan semburan lumpur).

Akan tetapi, bila fenomena mud vulcano yang terjadi, tampaknya harapan keberhasilan teknologi relief well dapat meleset dan harus dibuat skenario 4 dengan cara melakukan kegiatan pengeboran 4-5 relief well di lokasi yang mengelilingi semburan dan dilakukan secara bersamaan. Cara lain lagi adalah dengan tak berusaha mematikan semburan, melainkan mengalirkan lumpur ke laut sampai kemudian secara alamiah melemah, atau diusahakan dihambat dan akhirnya mati dengan sendirinya. Dan pada akhirnya tidaklah dapat dimungkiri, jika lumpur yang dialirkan ke laut itu akan membentuk sebuah pulau buatan (artificial island).

Buah dari Kesalahan Manusia?
Nyaris tidak ada yang mengangkal, jika semburan lumpur panas yang terjadi di Sidoarjo itu adalah akibat dari kesalahan dalam "eksplorasi minyak dan gas" yang dilakukan oleh Lapindo Brantas Inc. Akibat dari kesalahan itu, kemudian datang bencana, berupa semburan lumpur panas yang muntah dari perut bumi dengan volume yang setiap hari semakin bertambah. Alhasil, lumpur panas itu pun kemudian menjadikan warga Sidoarjo, terutama kecamatan Porong, harus menelan kenyataan pahit karena harus jadi korban dari ulah-ualah tangan manusia yang rakus akan keuntungan semata.

Jika dilihat dari prespektif agama, jauh-jauh hari sebelum ditemukan kecanggihan teknologi dan ilmu pengetahuan dalam upaya eksplorasi minyak dan gas, al-Qur`an dengan tegas dan lantang sudah menyeru, "Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia" (QS. ar-Ruum [30]: 41). Karena sudah seringkali menjadi pelajaran bagi kita, semisal kasus kerusakan hutan yang ditebangi dengan serampangan lalu mengakibatkan datangnya banjir. Tapi entah kenapa, kasus semisal banjir itu tak pernah menjadi pelajaran yang cukup berharga bagi kelangsungan hidup umat manusia di negeri ini. Belum lagi kasus-kasus pencemaran yang terjadi di laut.

Karena itulah, dalam kasus Lapindo ini setidaknya menjadi bukti, bahwa kecanggihan teknologi dan sains itu pada hakekatnya bermata dua. Pada satu sisi, teknologi dan sains itu bisa membawa pada kehidupan yang mencerahkan dan membawa kemajuan bagi umat manusia jika dilakukan dengan benar dan mematuhi aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah. Dengan kata lain, ditemukannya kecanggihan teknologi pada ujungnya akan mengingatkan manusia pada kekuasaan Allah bahwa alam ini adalah sebagai tanda-tanda dari kebesaran Allah sehingga jika dikelola dengan baik, tidak hanya akan mendatangkan manfaat dan keuntungan dalam perjalanan hidup manusia melainkan juga akan mengantarkan seseorang (teknisi) dekat kepada Allah.

Akan tetapi, jika kecanggihan teknologi dan sains itu disalahgunakan, semisal untuk mengeruk keuntungan semata dan tanpa peduli dengan lingkungan, maka akibat yang akan diterima bisa-bisa tak hanya bagi segelintir orang melainkan juga bagi banyak orang dan bahkan mereka yang tak berbuat apa-apa kena getah dan menjadi korban. Karena itu, kasus lumpur akibat dari eksploitasi yang dilakukan Lapindo Brantas Inc. ini menjadi bukti nyata dari ulah-ulah tangan manusia yang ceroboh dalam memanfaatkan alam demi keuntungan semata.

Pelajaran Cukup Berharga
Semburan lumpur panas masih terus mengalir sementara kecanggihan teknologi ternyata belum membuktikan hasil yang maksimal untuk menghalau semburan itu. Wajar jika masyarakat kini dihantui rasa cemas dan kahwatir. Karena jika nantinya datang musim hutan, keberadaan lumpur itu bisa mendatangkan banjir badang yang tentu saja akan menelan banyak korban jiwa lagi. Kedua, kalau hipotesa bahwa semburan lumpur itu sebagai fenomena dari underground blowout (UGBO), maka tak mustahil entah berapa tahun lagi kota Sidoarjo akan tenggelam.

Karena itulah, kasus semburan lumpur panas ini --setidaknya-- bisa menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja. Tidak hanya bagi pemerintah dan Lapindo Brantas Inc, melainkan bagi seluruh bangsa Indonesia, terutama para korban bencana. Dengan kasus ini, juga bukan berarti menjadi satu dalih bahwa Allah telah menghukum atau membenci warga kota Sidoarjo sehingga diturunkan bencana berupa banjir lumpur panas dan mereka pun harus kehilangan rumah dan terpaksa mengungsi. Karena setiap turun bencana, bukan serta merta itu sebuah adzab dari Allah, melainkan bisa juga sebagai peringatan atau suatu ujian.

Karena itulah, kita berharap semoga bencana ini adalah satu ujian dari Allah bahwa Allah amat mencintai warga Sidoarjo sehingga bencana itu dijadikan sebagai ujian untuk mengantarkan mereka jadi orang-orang yang sabar ketika ditimpa musibah dan selalu ingat Allah. Semoga para korban lumpur panas itu diberi kekuatan dan kesabaran sehingga dengan tabah mampu menghadapi ujian ini dengan teguh! Wallahu `alamu bish-shawaab***

Tidak ada komentar: