Sabtu, 03 Maret 2007

masjid akbar kemayoran: masjid modern berarsitektur jawa

tulisan ini dimuat di majalah hidayah edisi 68 maret 2007

Dengan menara yang menjulang tinggi ke langit biru, tidak bisa ditepis kalau masjid ini akan gampang dan mudah dikenali. Tak perlu bertanya atau mencari sumber gema adzan jika hanya sekadar untuk menelusuri masjid yang berdiri megah di kota baru Kemayoran ini. Julangan menara yang elegan dari segala penjuru sekiranya sudah cukup jadi simbol bahwa bangunan ini adalah rumah Tuhan.

Meski keberadaan masjid yang berarsitektur Jawa ini ada di antara bangunan bertingkat, rumah susun dan apartement yang menjulang tinggi, tetaplah kemegahan masjid ini tak akan tertutupi bangunan gedung di sekitar. Pendeknya, bangunan masjid ini tak kontras dengan bangunan di sekelingnya. Kalaupun ada yang membedakannya, maka itu adalah menara yang tinggi menjulang ke langit biru dan kubah yang megah.

Itulah pesona yang dipancarkan masjid Akbar Kemayoran ini. Nah, kalau Anda kebetulan sedang berada di kota baru bandar Kemayoran kala senja menjelang, lebih tepatnya ada di sekitar masjid, tak mustahil, terpaan sinar matahari yang menempias di menara serasa memancarkan seberkas kedamaian. Seperti ada “kerinduan jiwa” untuk merengguk ketenangan hati ketika memandang bangunan masjid ini di tengah himpitan gedung-gedung bertingkat. Apalagi setelah Anda memasuki masjid, kesejukan dan semilir angin yang berhembus dari luar serasa menentramkan. Demikianlah yang dirasa Hidayah sewaktu datang di Masjid Akbar Kemayoran di senja itu.

Denyut Ruhani
Di tengah derap dan perkembangan kota Jakarta, keberadaan kota baru bandar Kemayoran memang sejak awal didesain sebagai kota baru di tengah kota Jakarta yang modern dan bertaraf international. Karena itu, kawasan ini tergolong elit. Dengan kondisi itu, keberadaan masjid Akbar ini pun jadi “denyut jantung” penyeimbang kota. Artinya, di tengah kemegahan bangunan kota baru bekas bandara Kemayoran, masjid ini merupakan denyut ruhani sebagai fasilitas ibadah. Dengan itu, masjid ini dicirikan dengan memanifestasikan diri akan bentuk masa depan kota Jakarta.

Masjid Akbar berdiri kokoh di Jl. Ruas A3 dan Jl. Ruas A7 yang dulu merupakan bekas area landas timur barat pacu bandara udara Kemayoran. Dengan "lokasi tapak" yang strategis, dekat rumah susun, apartement, Town Hause dan area pemukiman lama, maka masjid ini memiliki potensi yang sangat pas sebagai tempat ibadah dan jadi titik perhatian di tengah area kota baru bandar Kemayoran. Selain itu, masjid ini juga sangat monumental karena ditunjang dengan lapangan boda di depan masjid dan baulevard dari arah H. Ung yang membentuk sudut pandang ideal masjid.

Arsitektur Jawa
Dilihat dari arsitektur yang mendominasi bangunan, masjid Akbar ini termasuk salah satu untaian mutiara perkembangan arsitektur masjid di Indonesia, yang dimulai dari berdirinya masjid Demak. Konsep bentuk masjid sengaja dirancang sebagai masjid masa depan yang memiliki benang merah arsitektur Masjid Demak, dari segi konsep bentuk dan ruang yang dipadukan langgam arsitektur Islam Arab (negeri Maghriby) dan dengan nilai-nilai arsitektur Modern. Karena leih merujuk arsitektur masjid Demak dan langgam arsitektur Islam (Arab), maka masjid ini bercorak arsitektur Jawa, memiliki bangunan induk bentuk joglo, atap cungkup limasan bertumpuk yang diapit bangunan serambi dan menonjolkan kolom-kolom sebagai elemen arsitektur.

Konsep ruang masjid secara langsung dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, konsep bentuk arsitektur Jawa yang terlihat di ruang dalam dan tata letak massa yang menciptakan ruang luar di pelataran, yang berfungsi untuk mengantisipasi pelimpahan jama`ah dan elemen landscape dengan konsep grids mengikuti as bangunan utama.

Kedua, kejujuran struktur yang ditonjolkan (diekspose) sebagai elemen estetis, berupa struktur Atap Kubah (Cungkup) beton balok-balok kubah yang dibiarkan terlihat tanpa dibalut material lain untuk menunjukkan kesederhanaan sebagai keindahan yang paling hakiki, seperti yang dicontohkan nabi Ibrahim ketika membangun Ka`bah yang hanya dari susunan batu, dan Allah meridhoi umat Islam menjadikan Ka`bah sebagai kiblat shalat.

Nilai-nilai spiritual inilah yang ditunjukkan masjid Akbar di Kemayoran. Dengan struktur atap kasau pipa ber-diameter 6, kolom-kolom lain dan balok-balok dibiarkan tampil sederhana, khususnya kolom soko guru yang original design, didesain khusus dan disederhanakan mengikuti suasana ruang, atmosfir teknologi, teknis modern sebagai wujud sebuah masjid di masa depan

Bentuk arsitektur masjid Akbar Kemayoran juga dihiasi dengan bidang-bidang "bukaan" berornamen Islam geometri yang dipasang di dinding. Di antara atap cungkup limasan yang bertumpuk, bidang-bidang bukaan berornamen Islam geometri tersebut mempunyai peran dalam menciptakan ruang arsitektur yang beratmosfir-kan Islam dan dipadukan secara estetis dengan ruang arsitektur Joglo.

Ornamen masjid Akbar Kemayoran untuk krawangan bidang bukaan atau ragam hias antar-kolom dan mighrab menyesuaikan karakter bentuk, ruang arsitektur yang geometris terukur dan tak dijumpai bentuk-bentuk lengkung. Ornamen Islam geometri ini merupakan pengkayaan bentuk dari dasar bujur sangkar yang paling sederhana sebagai sebuah manifestasi dari bentuk Ka`bah yang dikembangkan untuk mewujudkan bentuk-bentuk baru. Ornamen Islam geometri masjid Akbar ini pun banyak dijumpai pada pintu masuk (gerbang) makam-makam atas masjid para wali Songo.

Warna Khas Masjid
Warna yang dipilih masjid Akbar Kemayoran untuk memperkuat karakter ruang juga memiliki ciri khas (tengeran) sendiri yang berbeda dengan masjid-masjid lain karena mamadukan warna buatan hasil produksi dari warna bahan material alam dan ornamen finishing dalam satu tone monocromatic yang dipadukan dengan tone warna putih. Pilihan menghindari pemakaian warna ramai (bermacam-macam) ini keluar dari nuansa monocrmatic dimaksudkan memberikan intepretasi lain dari ruang masjid.

Juga, mengoptimalkan pencahayaan dan ventilasi secara natural. Optimalisasi sinar matahari dalam ruang shalat mendukung kekhusukan, tak perlu terang atau silau cahaya ketika siang. Dengan perhitungan luas bidang bukaan dan desain krawangan ornamen Islam geometri sebagai elemen penutup bidang bukaan, tetap memungkinkan sirkulasi udara secara "cross ventilation" (penghawaan silang), agar udara bisa mengalir antar-ruang dengan bebas melalui kisi-kisi (krawangan).

Lebih dari itu, masjid Akbar juga mengutamakan elemen-elemen material dari alam lokal. Dengan pertimbangan bahwa secara alamiah itu lebih tahan terhadap iklim dan cuaca Indonesia. Sedang untuk produk luar negeri yang dipakai hanya atap, karena konsep atap dituntut daya tahan tinggi, kerapihan bentuk dan juga dari sudut pandang estetis.

Kegiatan Masjid
Masjid Akbar ingin meniru peran masjid sebagaimana di masa rasulullah dahulu. Karena itu, setelah masjid berdiri, tak lantas semata-mata dijadikan sebagai tempat shalat, tetapi juga tempat pendidikan dan kegiatan sosial. Masjid yang menampung jama`ah lebih dari 2000 ini pun didesain dengan ruang utama shalat untuk digunakan kegiatan seperti, ceramah keagamaan, pengajian dan kegiatan ibadah-ibadah lain. Dengan didukung serambil yang luas, tentu masjid ini akan dapat menampung segala aktifitas ibadah yang ditunjang oleh ruang utama. Sedangkan untuk ruang serba guna, adalah wadah dari kegiatan umum yang bersifat kemasyarakatan dan pendidikan atau kesenian, digunakan untuk kegiatan yang bersifat non-ibadah.

Selain itu, masjid ini juga mempunyai peran ekonomi tinggi guna mendukung kegiatan masjid. Dikelola dengan sistem manajement profesional, masjid ini menerima acara resepsi pernikahan, seminar, muktamar, pertunjukan kesenian dan pameran. Sedang untuk fasilitas pendidikan, masjid Akbar mewadahi kegiatan belajar mengajar yang bersifat ibadah atau pendidikan umum non-formal. Kegiatan belajar mengajar tersebut, berupa pendidikan pesantren modern, bimbingan test, kursus menajement, bahasa asing, komputer dan kepemudaan. Untuk mendukung ekonomi masjid itu pula, masjid ini memfasilitasi pemukiman rumah susun, apartemen dengan mendirikan warung telekomunikasi, pos Giro, Pos Yandu, Bank Muamalat dan juga kantin.

Dengan sistem manajement seperti itu, masjid Akbar Kemayoran ini pun tidak sekadar sebuah masjid modern di tengah area "kota baru Kemayoran" Jakarta, tetapi juga telah menerapkan pengelolaan yang modern. Kendati demikian, masjid ini tidak lantas menjadi masjid yang kehilangan “ruh” di tengah deraan kesibukan orang-orang Jakarta yang kian tahun kian bertambah padat. (n. mursidi/foto: Endro)


Tidak ada komentar: